Masjid Raya Sheikh Zayed Solo berdiri megah di kawasan Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, di atas lahan seluas kurang lebih 3 hektar. Masjid ini bukan sekadar tempat beribadah, melainkan sebuah mahakarya arsitektur yang merepresentasikan hubungan diplomatik yang hangat antara Indonesia dan Uni Emirat Arab (UEA). Kehadirannya bermula dari hibah atau hadiah kenegaraan yang diberikan oleh Presiden UEA, Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan, kepada mantan Presiden RI Joko Widodo sebagai simbol persahabatan erat kedua negara. Sebagai replika dari Sheikh Zayed Grand Mosque yang ikonik di Abu Dhabi, masjid ini sukses memukau jutaan pasang mata sejak pertama kali dibuka untuk umum.

Perpaduan Megah Arsitektur Timur Tengah dan Kearifan Lokal

Menjejakkan kaki di kompleks Masjid Raya Sheikh Zayed Solo langsung membawa pengunjung merasakan atmosfer kemegahan negeri-negeri jazirah arab yang berpadu selaras dengan kehalusan seni budaya Nusantara.

Kemegahan Eksterior dan Kubah Marmer

Bangunan utama masjid didominasi oleh warna putih bersih dan sentuhan emas yang memancarkan kemewahan. Kompleks ini dimahkotai oleh 82 kubah berlapis marmer putih dalam berbagai ukuran yang mengitari bangunan utama, disokong oleh empat menara tinggi yang menjulang gagah ke langit Surakarta. Di area luar, hamparan taman yang asri dilengkapi dengan kolam air mancur serta puluhan pohon kurma yang sengaja ditanam untuk memperkuat nuansa Timur Tengah.

Sentuhan Batik pada Interior dan Al-Qur’an Raksasa

Keunikan utama masjid ini terletak pada interiornya yang menyatukan gaya Maroko dengan estetika lokal Indonesia. Ketika memasuki ruang utama, jemaah akan mendapati lantai yang dilapisi karpet mewah bermotif batik. Sentuhan seni ukir batik kawung juga tampak anggun menghiasi pintu-pintu utama masjid. Selain itu, di area selasar pintu masuk, terdapat sebuah ikon edukasi yang menarik perhatian, yakni Mushaf Al-Qur’an raksasa berbobot 501 kg yang dipajang secara khusus.

Informasi Kunjungan dan Fasilitas Penunjang

Sebagai salah satu destinasi wisata religi terpopuler di Indonesia, pengelola menyediakan berbagai fasilitas lengkap yang mengutamakan kenyamanan serta inklusivitas bagi seluruh pengunjung dari berbagai latar belakang.

Ketentuan dan Aturan Berkunjung

  • Jam Operasional: Masjid terbuka untuk umum setiap hari mulai pukul 03.00 hingga 22.00 WIB. Khusus pada bulan suci Ramadan, area masjid umumnya dibuka selama 24 jam penuh untuk melayani ibadah malam.
  • Tiket Masuk: 100% gratis tanpa dipungut biaya apa pun.
  • Kapasitas Jamaah: Mampu menampung sekitar 10.000 hingga 14.000 jemaah sekaligus, yang terbagi di area bangunan utama dua lantai serta pelataran luar yang luas.
  • Aturan Berpakaian (Dress Code): Seluruh pengunjung wajib mengenakan pakaian yang sopan dan menutup aurat. Pengunjung wanita diwajibkan mengenakan jilbab atau penutup kepala serta baju lengan panjang yang longgar, sementara pria diwajibkan memakai celana panjang. Aturan ini bersifat wajib dan berlaku bagi siapa saja, termasuk wisatawan non-muslim yang ingin mengagumi keindahan arsitekturnya.

Aksesibilitas dan Tarif Parkir Resmi

Lokasi masjid tergolong sangat strategis dan mudah dijangkau dari berbagai titik transportasi utama, berada dekat dengan Stasiun Solo Balapan dan Terminal Tirtonadi. Di dalam kompleks, fasilitas penunjang dirancang sangat ramah bagi lansia dan penyandang disabilitas, termasuk penyediaan lift khusus yang menghubungkan area basement tempat wudu hingga ke lantai atas.
Guna menjaga kenyamanan pengunjung dari praktik pungutan liar, Pemerintah Kota Surakarta telah menetapkan tarif resmi parkir di sekitar kawasan masjid:
  • Sepeda Motor: Rp3.000
  • Mobil: Rp5.000
  • Kendaraan Besar (Elf/HiAce): Rp10.000
Masjid Raya Sheikh Zayed Solo berhasil membuktikan diri sebagai destinasi yang memadukan spiritualitas, estetika seni tinggi, dan keramahan lokal, menjadikannya titik singgah yang wajib dikunjungi saat berada di Kota Surakarta.