Istana Ratu Boko (sering disebut Candi Ratu Boko) adalah sebuah situs arkeologi monumental di Yogyakarta yang bukan merupakan candi, melainkan bekas kompleks istana atau keraton berbenteng dari abad ke-8 pada masa Kerajaan Mataram Kuno. Situs seluas 25 hektar ini berdiri di atas bukit pada ketinggian sekitar 196 meter di atas permukaan laut. Keunikan utamanya terletak pada perpaduan arsitektur spiritual Buddha dan Hindu, struktur pertahanan militer, serta panorama matahari terbenam (sunset) yang dianggap sebagai salah satu yang terbaik di Yogyakarta.

Ragam Spot & Keunikan Arsitektur

Berbeda dengan Candi Prambanan yang murni tempat ibadah, struktur di Ratu Boko menunjukkan fungsi sebagai tempat tinggal bangsawan dan pusat aktivitas:
  • Gerbang Utama (Gapura): Struktur dua lapis megah berpagar batu andesit yang menjadi ikon utama Ratu Boko.
  • Candi Pembakaran & Batukapur: Tempat pemujaan atau ritual khusus di area depan keraton.
  • Pendopo & Paseban: Area lantai batu berstruktur luas yang dulunya digunakan sebagai aula pertemuan kerajaan.
  • Keputren: Kompleks kolam pemandian batu yang dikelilingi dinding, dipercaya sebagai tempat mandi para putri dan keluarga kerajaan.
  • Gua Pertapaan: Gua kecil (Gua Lanang dan Gua Wadon) yang digunakan untuk kebutuhan meditasi spiritual.

Sejarah Singkat & Toleransi

Situs ini awalnya dibangun oleh Rakai Panangkaran dari Wangsa Sailendra sekitar tahun 792 Masehi sebagai sebuah wihara Buddha bernama Abhayagiri Wihara (biara di bukit yang penuh kedamaian). Ketika tampuk kekuasaan beralih ke raja-raja Hindu Mataram, kompleks ini dikembangkan menjadi istana berbenteng dengan tambahan unsur-unsur Hindu. Oleh karena itu, Ratu Boko menjadi simbol kuat toleransi beragama di masa Jawa Kuno.
Nama “Ratu Boko” sendiri diambil dari cerita rakyat setempat, di mana Raja Boko dikisahkan sebagai ayah dari Roro Jonggrang dalam legenda pembangunan Candi Prambanan.